Menembus Sekat Jurusan: Semangat Kartini di Balik Jarum, Layar Desain, dan Mesin Motor

Menembus Sekat Jurusan: Semangat Kartini di Balik Jarum, Layar Desain, dan Mesin Motor

Depok, 21 April 2026 - Peringatan Hari Kartini setiap 21 April bukan sekadar mengenang sosok Raden Ajeng Kartini sebagai pelopor emansipasi perempuan. Lebih dari itu, Kartini adalah simbol keberanian untuk belajar, berpikir merdeka, dan menembus batas—termasuk batas-batas yang sering kali diciptakan oleh stereotip sosial. Semangat inilah yang kini menemukan relevansinya di lingkungan pesantren dan pendidikan vokasi, terutama di jurusan Tata Busana (Desain dan Produksi Busana), Desain Komunikasi Visual (DKV), hingga Teknik Sepeda Motor (TSM).

Di pesantren, nilai-nilai Islam menjadi fondasi utama dalam membentuk karakter siswa. Islam memandang laki-laki dan perempuan sebagai makhluk mulia yang memiliki kesempatan yang sama dalam beribadah, menuntut ilmu, dan berkarya. Al-Qur'an menegaskan bahwa kemuliaan seseorang tidak ditentukan oleh jenis kelamin, melainkan oleh ketakwaannya. Teladan Nabi Muhammad SAW juga menunjukkan bagaimana perempuan diberi ruang luas untuk berkembang dalam berbagai bidang kehidupan.

Sejarah Islam bahkan mencatat peran besar perempuan seperti Khadijah binti Khuwailid sebagai pengusaha sukses, dan Aisyah binti Abu Bakar sebagai ulama perempuan yang menjadi rujukan ilmu. Hal ini menegaskan bahwa kesetaraan dalam Islam bukanlah konsep baru, melainkan telah menjadi bagian dari ajaran yang mendorong keadilan dan keseimbangan.

Semangat tersebut tercermin nyata di jurusan Tata Busana. Di ruang praktik menjahit, siswa belajar bahwa karya bukan sekadar produk, tetapi juga identitas dan nilai. Busana yang dihasilkan tidak hanya indah secara visual, tetapi juga mengandung pesan tentang kesopanan, budaya, dan karakter. Jarum dan benang menjadi simbol ketekunan, kreativitas, dan kontribusi nyata dalam dunia industri maupun dakwah visual.

Di sisi lain, jurusan DKV menghadirkan ruang ekspresi melalui media visual yang kuat. Siswa dilatih untuk menyampaikan ide, pesan sosial, dan nilai-nilai kebaikan melalui desain grafis, ilustrasi, hingga konten digital. Dalam era informasi yang serba cepat, DKV menjadi alat strategis untuk menyuarakan semangat Kartini—tentang kesetaraan, pendidikan, dan pemberdayaan—dengan cara yang relevan dan berdampak luas.

Menariknya, semangat menembus sekat jurusan juga terlihat di Teknik Sepeda Motor (TSM). Selama ini, dunia otomotif sering dipandang sebagai wilayah laki-laki. Namun di bangku SMK, batas itu mulai memudar. Perempuan yang terjun ke TSM membuktikan bahwa keterampilan teknis tidak mengenal gender. Di bengkel praktik, yang dinilai adalah ketelitian, keahlian, dan semangat belajar. Sementara itu, siswa laki-laki juga belajar menghargai kerja sama dan profesionalitas tanpa bias. Inilah wujud nyata kesetaraan yang tidak sekadar wacana, tetapi praktik langsung di dunia pendidikan.

Persamaan gender dalam perspektif Islam bukan berarti menyamakan segala hal secara mutlak, melainkan memberikan keadilan sesuai peran dan potensi masing-masing. Islam menolak diskriminasi, namun tetap menjaga harmoni dan keseimbangan. Dalam konteks ini, perjuangan Kartini sejalan dengan nilai-nilai Islam: membuka akses pendidikan, memperluas kesempatan, dan memuliakan manusia melalui ilmu dan akhlak.

Momentum Hari Kartini menjadi pengingat bahwa tidak ada jurusan yang “dibatasi” oleh gender. Tata Busana, DKV, maupun TSM adalah ruang yang sama-sama terbuka bagi siapa pun yang ingin belajar dan berkembang. Setiap siswa memiliki hak yang sama untuk bermimpi, berkarya, dan berkontribusi bagi masyarakat.

Pada akhirnya, semangat Raden Ajeng Kartini tidak berhenti pada masa lalu. Ia hidup di ruang-ruang kelas, di balik mesin jahit, di depan layar desain, hingga di bengkel otomotif. Dari sanalah lahir generasi muda yang tidak hanya terampil secara teknis, tetapi juga kuat secara karakter—menggabungkan nilai keislaman, kreativitas, dan semangat kesetaraan dalam satu langkah menuju masa depan. (*)

Share Whatsapp Share Facebook