Feature

Santri, Pancasila, dan Pelajaran dari G30S/PKI

Santri, Pancasila, dan Pelajaran dari G30S/PKI

Depok - Setiap tanggal 30 September, bangsa Indonesia kembali diingatkan pada sebuah peristiwa kelam dalam sejarah: Gerakan 30 September 1965 atau yang lebih dikenal sebagai G30S/PKI. Peristiwa ini bukan hanya tentang perebutan kekuasaan, tetapi juga tentang ideologi yang mencoba menggantikan dasar negara Pancasila dengan paham komunisme dan bertentangan dengan nilai luhur bangsa.

Di tengah ingatan sejarah itu, SMK Diponegoro Depok—sebuah sekolah kejuruan yang berbasis pesantren dan bernaung di bawah tradisi Nahdlatul Ulama (NU)—hadir sebagai benteng pendidikan yang tidak sekadar menyiapkan keterampilan vokasional, tetapi juga menanamkan jiwa nasionalisme dan kesetiaan pada Pancasila.


---

Jejak Panjang Konflik Kyai dengan PKI

Sejarah mencatat, konflik antara PKI dan para ulama NU telah terjadi sejak awal kemerdekaan. Pada tahun 1948, dalam peristiwa Madiun, PKI melakukan pemberontakan yang menelan korban para kyai, santri, dan tokoh agama. Nilai agama yang dijunjung tinggi para ulama dianggap musuh oleh PKI yang membawa ideologi anti-Tuhan.

Kiai-kiai NU, dengan santri sebagai garda depannya, tampil sebagai benteng utama yang menjaga akidah umat sekaligus mempertahankan kedaulatan bangsa. Konflik itu berulang pada 1965, ketika PKI mencoba kembali menancapkan pengaruhnya. Lagi-lagi, kaum santri dan para ulama tampil sebagai kekuatan moral dan sosial untuk menjaga Indonesia tetap berdiri di atas dasar Pancasila.


---

Pesantren dan SMK: Mencetak Generasi Tangguh

SMK Diponegoro Depok, dengan jurusan Desain Komunikasi Visual, Teknik Sepeda Motor, serta Desain dan Produksi Busana, merupakan wujud nyata pendidikan kejuruan yang berpadu dengan kultur pesantren. Para siswa tidak hanya dibekali keterampilan untuk siap kerja, tetapi juga dididik dalam tradisi pesantren: disiplin, tawadhu, cinta tanah air, serta kesetiaan pada ajaran Ahlussunnah wal Jama’ah.

Nilai-nilai itu menjadi penting mengingat ancaman ideologi transnasional maupun radikalisme selalu ada dalam perjalanan bangsa. Melalui pendidikan berbasis pesantren, santri SMK Diponegoro Depok diingatkan bahwa cinta tanah air adalah bagian dari iman (hubbul wathan minal iman). Menolak komunisme dan segala bentuk ideologi yang bertentangan dengan Pancasila adalah perintah moral sekaligus amanah sejarah.


---

Meneguhkan Kesetiaan pada NKRI dan Pancasila

Peristiwa G30S/PKI memberi pelajaran bahwa menjaga NKRI bukan hanya tugas militer atau pemerintah, tetapi juga tugas setiap warga, termasuk para pelajar. Di SMK Diponegoro Depok, kecintaan kepada bangsa dan negara diajarkan seiring dengan keterampilan vokasi. Pancasila tidak hanya menjadi hafalan, melainkan sikap hidup yang wajib tertanam dalam hati setiap santri.

Sejarah panjang konflik antara ulama NU dan PKI telah membuktikan bahwa santri selalu berdiri di garis depan menjaga kedaulatan bangsa. Kini, tugas itu diwariskan kepada generasi muda di sekolah-sekolah berbasis pesantren. Mereka bukan hanya calon teknisi, desainer, atau wirausahawan, tetapi juga calon-calon pemimpin bangsa yang setia kepada NKRI.


---
 

Share Whatsapp Share Facebook