Home

Saksi Zaman: Jejak Pengabdian di SMK Diponegoro Depok

Saksi Zaman: Jejak Pengabdian di SMK Diponegoro Depok

Awal berdirinya SMK Diponegoro Depok, sebelum gedung-gedung kokoh berdiri dan sebelum sekolah dikenal luas seperti sekarang, ada masa ketika seluruh kegiatan belajar mengajar masih menumpang di ruang MI Ma’arif Sembego. Ruang itu sederhana, bahkan harus dibagi dua—separuh menjadi kelas, separuh menjadi kantor guru. Dalam suasana penuh keterbatasan itulah, pada tahun 2004, hadir seorang guru yang kelak menjadi saksi perjalanan panjang sekolah: Bu Sri Sumarti, B.A.

Dengan hanya dua puluhan siswa yang bertahan pada tahun pertama (awalnya sekitar 30 siswa) dan fasilitas praktik yang sangat minim—bahkan motor praktik pun belum tersedia—Bu Sri tetap memilih mengabdikan diri di tempat ini. Ia melihat bukan kekurangan, melainkan peluang untuk bertumbuh bersama sekolah dan siswa-siswanya. “Semangat anak-anak waktu itu luar biasa. Dari situ tumbuh sejuta tekad untuk membantu mereka mewujudkan mimpi,” tuturnya dalam satu kesempatan.

Mengabdi dari Zaman Kapur Tulis hingga Era Digital

Sebagai guru yang hadir dari masa awal berdirinya sekolah, Bu Sri mengalami seluruh fase perkembangan SMK Diponegoro Depok: dari tidak memiliki buku paket, Lembar Kerja Siswa, hingga kini memiliki fasilitas praktik modern dan lebih lengkap, dua kampus, dan memiliki tiga jurusan unggulan. Perubahan demi perubahan ia saksikan dengan mata kepala sendiri senafas dengan keikhlasan mengajar yang tiada henti, namun satu hal yang tidak pernah berganti adalah ketulusan pengabdian yang tak padam hingga kini.

Kesaksian para rekan kerja memperkuat gambaran tentang sosok Bu Sri sebagai guru yang tidak hanya hadir di ruang kelas, tetapi juga hidup dalam ingatan dan perjalanan banyak orang. Bapak Bayu Kristanto, S.E., rekan kerja yang dahulu merupakan siswa bimbingannya di angkatan pertama, mengenang Bu Sri sebagai figur pendidik yang sungguh-sungguh mengabdikan diri untuk murid-muridnya. Baginya, Bu Sri adalah guru yang rela berkorban demi keberhasilan siswa, bahkan sejak masa-masa awal sekolah berdiri. Ia menilai Bu Sri tidak sekadar mentransfer pengetahuan, melainkan juga menanamkan nilai-nilai karakter dan kepercayaan diri yang kelak menjadi bekal penting bagi siswa dalam menapaki kehidupan. “Keikhlasan dan pengabdian Bu Sri adalah kelebihan yang membuatnya menjadi panutan,” ujarnya, menegaskan bahwa keteladanan Bu Sri tumbuh dari ketulusan, bukan dari jabatan atau sorotan.

Pandangan serupa disampaikan oleh Kepala SMK Diponegoro Depok, Bapak Moh. Afifi, S.Th.I., yang mengenal Bu Sri sejak tahun 2009. Di mata beliau, Bu Sri adalah pribadi yang pantas diteladani, sosok guru yang selalu hadir dengan energi dan semangat yang tidak pernah tampak surut. Ungkapan “beliau full power” yang disampaikannya bukan sekadar pujian, melainkan cerminan dari konsistensi Bu Sri dalam mengabdi—bahkan ketika usia terus bertambah. Bagi Bapak Afifi, kesan mendalam tentang Bu Sri juga hadir dalam momen-momen sederhana, seperti ketika Bu Sri dan suami bersilaturahmi ke rumahnya. Kesederhanaan, kehangatan, dan ketulusan yang terpancar dalam perjumpaan itu justru semakin menegaskan karakter Bu Sri sebagai pendidik yang membumi dan dekat dengan siapa pun.

Sementara itu, Ibu Dita Dwigus Wijayanti, M.Pd., Waka Kurikulum, melihat Bu Sri dari sisi ketangguhan pribadi yang luar biasa. Ia mengenal Bu Sri sebagai sosok yang murah senyum, gigih, dan selalu memancarkan semangat positif di lingkungan kerja. Di balik senyum yang tak pernah absen itu, Bu Sri telah melewati berbagai ujian hidup yang tidak ringan. Namun, alih-alih larut dalam kesedihan, Bu Sri justru memilih untuk tetap kuat dan hadir bagi sekolah. “Sesulit apa pun masalahnya—baik pada orang tua, anak, suami, bahkan dirinya sendiri—beliau tetap tabah dan menutupi semuanya dengan senyum yang indah,” tutur Bu Dita. Baginya, keteguhan inilah yang membuat Bu Sri menjadi figur inspiratif, terutama bagi guru-guru muda yang belajar bahwa kekuatan seorang pendidik tidak hanya diukur dari kemampuan mengajar, tetapi juga dari ketabahan dalam menghadapi kehidupan.

Dari ketiga kesaksian tersebut, tergambar jelas bahwa Bu Sri bukan hanya dihormati karena masa baktinya yang panjang, melainkan karena nilai-nilai yang ia hidupkan setiap hari: keikhlasan, keteguhan, dan kepedulian yang tulus. Keteladanan itu tumbuh secara alami, dirasakan oleh siswa, rekan sejawat, hingga pimpinan sekolah—menjadikan Bu Sri sosok yang layak dikenang dan diteladani lintas generasi.

Guru Sekaligus Pelopor Literasi

Tak berhenti sebagai pengajar, Bu Sri juga menorehkan jejak sebagai penulis aktif. Puluhan karya teIah diterbitkan, beberapa diantaranya ditulis bersama guru dan siswa. Karyanya—seperti Catatan Perjuangan, Secangkir Kehidupan, hingga Damai Sepanjang Masa—menjadi bukti bahwa literasi bisa tumbuh bahkan dari sekolah kecil yang dulu penuh keterbatasan. Tidak hanya itu, karya literasi guru dan siswa SMK Diponegoro Depok yang beliau fasilitasi. Untuk Kita Yang Sedang Berjuang  adalah karya yang menguatkan pesan bahwa produktivitas tidak boleh berhenti.

Ia percaya literasi bukan teori, melainkan contoh nyata. Karena itu, ia melibatkan siswa dan guru muda agar mereka merasakan pengalaman menulis yang sesungguhnya. Melalui literasi, Bu Sri tidak hanya mengajarkan teknik menulis, tetapi menanamkan karakter: keberanian untuk bersuara, ketekunan berkarya, dan kebiasaan berpikir yang lebih dewasa.

Inilah teladan yang hingga kini menular ke banyak guru muda di sekolah. Banyak karya siswa lahir dari tangan dinginnya, mulai dari antologi cerita hingga kumpulan puisi bersama. Dengan itu, Bu Sri menanamkan keyakinan bahwa setiap siswa memiliki suara, dan setiap guru muda memiliki peluang meninggalkan jejak kebaikan melalui tulisan.

Keteguhan dalam Ujian: Empat Operasi dan Kekuatan Doa

Di balik senyum yang selalu tampak, Bu Sri menyimpan kisah perjuangan yang tak semua orang mampu menjalaninya. Ia pernah divonis kanker payudara dan harus menjalani empat kali operasi dalam waktu tiga bulan, disertai rangkaian kemoterapi yang menguras fisik dan mental. Namun, alih-alih menyerah pada keadaan, Bu Sri memilih tetap hadir di sekolah setiap kali kondisi memungkinkan. Baginya, ruang kelas adalah tempat untuk tetap menebar manfaat, sekaligus ruang yang memberinya kekuatan. “Doa para siswa dan guru seperti butiran tasbih yang menguatkan saya saat berada di titik nol,” kenangnya dengan penuh syukur.

Cobaan kesehatan tidak hanya ia hadapi seorang diri. Dalam waktu yang hampir bersamaan, beberapa anggota keluarganya pun bergiliran diuji dengan sakit. Di tengah situasi yang tidak mudah itu, Bu Sri tetap bertahan—tetap mengajar, tetap berkarya, dan tetap menghadirkan senyum yang menenangkan. Sikap inilah yang menjadikannya teladan hidup bagi guru-guru muda: bahwa pengabdian sejati tidak diukur dari mulusnya perjalanan, melainkan dari keteguhan hati dalam menjalaninya.

Dari pengalaman tersebut, tersirat pesan yang kuat bagi generasi pendidik berikutnya. Seorang guru tidak selalu berada dalam kondisi ideal, tetapi komitmen untuk tetap memberi manfaat dapat menjadi sumber kekuatan yang justru menguatkan diri sendiri. Keteladanan Bu Sri mengajarkan bahwa profesi guru bukan hanya tentang menyampaikan materi, melainkan tentang menghadirkan keteguhan, kesabaran, dan harapan—nilai-nilai yang akan terus hidup dan diteladani oleh para guru muda di SMK Diponegoro Depok.

Mengabdi Melampaui Batas Usia

Kini, meski telah memasuki usia pensiun, Bu Sri tetap memilih hadir di SMK Diponegoro Depok. Baginya, sekolah ini adalah rumah kedua—tempatnya tumbuh, berbagi cerita, belajar dari guru muda, dan menyalakan cahaya bagi generasi berikutnya. “Hidup harus bermanfaat selagi diberi napas,” ujarnya dengan lembut. “Mentransfer ilmu itu bagian dari ibadah.”

Rekan-rekannya sepakat bahwa keteladanan Bu Sri bukan hanya dalam mengajar atau menulis, tetapi juga dalam cara ia memaknai hidup: dengan ikhlas, tenang, tekun, dan penuh harapan.

Lentera yang Menyinari Generasi Selanjutnya

Perjalanan panjang Bu Sri Sumarti, B.A. adalah refleksi tentang makna pengabdian sejati. Ia berjuang sejak sekolah ini berdiri di ruang pinjaman, melalui masa-masa sulit, hingga menyaksikan sekolah tumbuh menjadi lembaga yang diperhitungkan masyarakat. Ketulusannya, keberanian menghadapi ujian, kerja kerasnya dalam literasi, serta semangatnya untuk terus mengabdi menjadikan beliau teladan yang pantas ditiru generasi pendidik berikutnya.

Bagi guru muda, Bu Sri adalah cermin yang patut ditiru: guru yang tidak mudah menyerah, tidak berhenti belajar, dan selalu menjaga api semangat meski diterpa ujian. 

Ia sendiri pernah berkata: “Guru adalah lentera di malam gelap.” Dan hari ini, lentera itu masih menyala—menyinari perjalanan SMK Diponegoro Depok dan semua yang bertumbuh bersama beliau. (*) 

Share Whatsapp Share Facebook