Home

Rumah Kedua: Ketika Alumni Tak Pernah Benar-Benar Pergi

Rumah Kedua: Ketika Alumni Tak Pernah Benar-Benar Pergi

Sekolah tempat tumbuh, pulang, dan mengabdi.

Ada sekolah yang hanya kita lewati, dan ada sekolah yang membentuk kita—lalu terus hidup di dalam diri kita, bahkan ketika waktu berjalan jauh ke depan.

 

SMK Diponegoro Depok adalah yang kedua.

Di sekolah ini, belajar bukan hanya soal nilai dan keterampilan, tetapi tentang proses menjadi manusia. Tentang disiplin yang dibangun pelan-pelan, tentang karakter yang ditempa dari kebiasaan, dan tentang relasi guru–siswa yang terasa seperti keluarga. Karena itulah, bagi sebagian alumni, SMK Diponegoro Depok bukan sekadar tempat menimba ilmu. Ia adalah rumah kedua—tempat yang selalu memanggil untuk kembali.

Cerita itu bermula dari Bapak Bayu Kristanto, S.E., lulusan tahun 2007, bagian dari generasi pertama SMK Diponegoro Depok. Ia masuk saat sekolah ini baru berdiri, ketika fasilitas masih sangat terbatas dan jumlah siswa hanya sekitar dua puluhan orang. Namun di tengah keterbatasan itulah Pak Bayu menemukan fondasi hidupnya. Ia belajar dari keteladanan guru-guru yang sabar dan bersahaja, terutama Romo KH. M. Syakir Ali, M.Si., sosok yang membentuk cara pandangnya tentang ilmu, adab, dan pengabdian. Dari Romo Syakir, Pak Bayu memahami bahwa ilmu bukan untuk disimpan, melainkan diamalkan. Setelah menempuh pendidikan di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dan berkhidmah di lingkungan pesantren Diponegoro, Pak Bayu kembali ke almamaternya. Tahun 2015 ia mulai mengajar, mengabdikan diri dan menyampaikan ilmu kepada para santri-siswa. Sejak tahun 2019 Ia dipercaya menjadi Wakil Kepala Bidang Keagamaan. Prinsip hidupnya sederhana namun kuat: my life is khidmah. Baginya, SMK Diponegoro Depok adalah tempat menanam dan menumbuhkan nilai, bukan sekadar institusi pendidikan.

Perjalanan yang berbeda namun sama kuatnya datang dari Bapak Nur Febriyanta, S.Pd., lulusan tahun 2011. Ia adalah gambaran nyata bahwa proses tidak pernah berbohong. Saat masih menjadi siswa, bengkel praktik otomotif belum seperti sekarang. Alat praktik terbatas, belajar sering berlanjut hingga malam, bahkan ada momen-momen “keras” yang justru membentuk mental—seperti membantu pengecoran gedung sekolah sebagai bentuk pembinaan disiplin. Setelah lulus, Pak Nur Febriyanta sempat bekerja di bengkel, lalu diminta membantu sekolah sebagai toolman. Dari peran paling dasar itulah ia belajar tanggung jawab dan ketekunan. Sambil kuliah di UST Tamansiswa, ia bekerja tanpa menjadi toolman di bengkel praktik SMK Diponegoro Depok. Tahun 2016 ia mulai dipercaya untuk mengajar, dan pada 2021 dipercaya menjadi Kepala Jurusan TSM. Kini, di bengkel yang jauh lebih lengkap, tertata dan modern, ia memastikan bahwa siswa belajar dengan kualitas yang bahkan lebih baik dari yang pernah ia terima. Baginya, sekolah ini adalah tempat membalas proses yang telah membesarkannya.

Energi generasi muda terasa kuat dalam sosok Bapak Fauzan Afif Nurrahmat, S.Pd, lulusan tahun 2018. Sejak menjadi siswa, Pak Afif dikenal aktif dan progresif: Ketua OSIS, Paskibra Kabupaten Sleman, atlet pencak silat yang turun di PORDA, serta penggerak berbagai kegiatan sekolah. Dalam proses belajar saat menjadi siswa dan sekarang menjadi bagian dari pengajar SMK Diponegoro Depok, ia menyimpan sosok yang paling membekas baginya yaitu Pak Riyas Jati Pamungkas, S.Pd—guru yang ia anggap sebagai kakak saat menjadi siswa, dan mentor ketika ia mulai mengajar. Dari Pak Jati, Ia belajar tentang kepemimpinan yang membumi dan keberanian mengambil tanggung jawab. Perjalanannya kembali ke SMK Diponegoro Depok dimulai dari magang dan PLP (Pengenalan Lapangan Persekolahan) saat kuliah di UST Tamansiswa. Pandemi justru membuat keterikatannya dengan sekolah semakin kuat, hingga akhirnya ia dipercaya menjadi guru produktif otomotif sejak 2021. Berkat kompetensi dan prestasinya di bela diri, ia juga menjadi pembina ekstrakurikuler pencak silat, dan mendampingi tim pleton inti SMK Diponegoro Depok. Pak Fauzan percaya, sekolah harus menjadi tempat siswa tumbuh utuh—kuat di kelas, tangguh di lapangan, dan siap menghadapi dunia nyata.

Di barisan alumni pengabdi, ada pula Bapak Maftuh, A.Md.T., lulusan tahun 2016, yang sejak siswa sudah dikenal aktif, disiplin, dan komunikatif. Setelah menyelesaikan pendidikan D3 Otomotif di UNY, ia kembali ke SMK Diponegoro Depok sebagai guru. Karakter kerjanya yang rapi dan kemampuan membangun relasi membuatnya dipercaya menjadi Wakil Kepala Bidang Humas sejak tahun 2024. Pak Maftuh berada di garda depan dalam menjalin kerja sama dengan dunia industri dan masyarakat. Ia melihat SMK Diponegoro Depok sebagai sekolah yang terus naik kelas—bukan hanya dalam fasilitas, tetapi juga dalam kualitas lulusan. Dan ia ingin memastikan cerita baik itu sampai ke publik.

Nuansa berbeda hadir lewat Ibu Nur Hanifa, S.Pd., lulusan tahun 2014, alumni Tata Busana yang dikenal berprestasi sejak menjadi siswa. Setelah menyelesaikan studi di UNY jurusan Bahasa Jawa, bu Hanifa kembali mengajar dengan pendekatan yang hangat namun tegas. Ia paham betul dinamika remaja, karena ia pernah berada di posisi yang sama. Ketekunannya membuat ia dipercaya menjadi Staf Kurikulum pada sampai kemudian menjadi Wakil Kepala Bidang Kesiswaan pada 2025. Bu Hanifa menjadi wajah pembinaan siswa yang menenangkan—mendengar, membimbing, sekaligus menegakkan aturan dengan empati. Baginya, mendidik adalah proses membersamai, bukan menghakimi.

Rangkaian kisah ini dilengkapi oleh Feri Subekhan, S.T., Alumni tahun 2020, sosok di balik pengembangan Teaching Factory Otomotif. Ia menempuh pendidikan di UNU Yogyakarta jurusan Elektronika dan lulus pada 2025. Di tangannya, Tefa bukan sekadar bengkel praktik, melainkan ruang belajar industri yang nyata. Pak Feri meyakini bahwa siswa SMK harus dibiasakan bekerja dengan standar profesional sejak dini—belajar berpikir solutif, disiplin, dan bertanggung jawab atas hasil kerja mereka sendiri.

Jika ditarik satu benang merah, kisah para alumni ini berbicara tentang satu hal yang sama: SMK Diponegoro Depok membentuk manusia sebelum mencetak lulusan. Sekolah ini menanamkan karakter, membangun kepercayaan diri, dan membuka jalan masa depan—baik untuk bekerja, melanjutkan kuliah, maupun berwirausaha. Tidak heran jika mereka yang pernah tumbuh di sini memilih kembali. Bukan karena tidak ada pilihan lain, tetapi karena merasa memiliki.

Bagi calon siswa baru, kisah ini adalah undangan yang jujur. Bahwa memilih SMK Diponegoro Depok berarti memilih proses. Proses untuk tumbuh, belajar, salah, bangkit, dan akhirnya siap menghadapi dunia. Dan ketika suatu hari nanti langkah membawa mereka jauh, selalu ada satu tempat yang bisa mereka sebut rumah.

Karena di SMK Diponegoro Depok, alumni tidak pernah benar-benar pergi. (*)

Share Whatsapp Share Facebook