Belajar Demokrasi dari Muktamar NU: Berbeda dalam Pilihan, Taat dalam Keputusan

Belajar Demokrasi dari Muktamar NU: Berbeda dalam Pilihan, Taat dalam Keputusan

Depok, 1 September 2026 - Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) di Jombang telah melahirkan kepemimpinan baru untuk masa khidmat 2026–2031. KH Miftachul Akhyar kembali dipercaya sebagai Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), sementara KH Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin terpilih sebagai Ketua Umum PBNU.

Bagi SMK Diponegoro Depok, peristiwa tersebut bukan semata-mata tentang pergantian kepemimpinan organisasi keagamaan terbesar di Indonesia. Lebih dari itu, Muktamar NU menghadirkan pelajaran penting bagi dunia pendidikan: bagaimana berbeda dalam pilihan, bermusyawarah, menghormati ulama, kemudian menerima dan menjalankan keputusan bersama.

Sebagai sekolah swasta yang berada dalam lingkungan Nahdlatul Ulama dan pesantren, SMK Diponegoro Depok memandang nilai-nilai tersebut sangat relevan untuk ditanamkan kepada generasi muda.

Demokrasi Tidak Berhenti pada Memilih

Demokrasi sering kali dipahami sebatas kegiatan memilih pemimpin. Padahal, demokrasi yang sehat jauh lebih luas daripada itu. Demokrasi membutuhkan keberanian untuk menyampaikan pendapat, kesediaan mendengarkan pandangan orang lain, kemampuan menghargai perbedaan, serta kesiapan menerima keputusan yang telah dihasilkan melalui mekanisme yang disepakati.

Proses Muktamar NU memberikan gambaran tentang hal tersebut. Para peserta Muktamar memiliki ruang untuk menyampaikan aspirasi dan pilihan. Perbedaan pandangan menjadi bagian dari proses. Namun, ketika mekanisme organisasi telah menghasilkan keputusan, kepentingan bersama harus ditempatkan di atas kepentingan pribadi maupun kelompok.

Berbeda dalam pilihan tidak harus berakhir dengan perpecahan. Inilah salah satu pelajaran demokrasi yang penting bagi peserta didik.

Dari Muktamar ke Ruang Kelas

Nilai tersebut sesungguhnya sangat dekat dengan kehidupan siswa. Di sekolah, peserta didik belajar bermusyawarah, memilih ketua kelas, mengikuti organisasi, menentukan kegiatan bersama, menyampaikan pendapat, bahkan menghadapi perbedaan pandangan dalam kerja kelompok.

Semua itu merupakan latihan demokrasi dalam bentuk yang sederhana. Namun, pendidikan demokrasi tidak cukup hanya mengajarkan siswa bagaimana menyampaikan pendapat. Siswa juga perlu belajar bagaimana menerima pendapat yang berbeda.

Lebih jauh lagi, mereka perlu belajar bahwa setelah sebuah keputusan bersama ditetapkan melalui mekanisme yang benar, setiap anggota memiliki tanggung jawab untuk menghormatinya.

Di sinilah demokrasi bertemu dengan karakter. Berani menyampaikan pendapat, tetapi tetap santun. Berani berbeda, tetapi tidak merendahkan. Berani mengkritik, tetapi tetap menghormati. Dan ketika keputusan telah ditetapkan, mampu menerima serta melaksanakannya.

Taat kepada Kiai, Berakar pada Adab

Sebagai lembaga pendidikan yang tumbuh dalam kultur pesantren dan tradisi NU, SMK Diponegoro Depok juga menempatkan penghormatan kepada kiai dan ulama sebagai bagian penting dari pendidikan karakter.

Dalam tradisi pesantren, hubungan antara santri dan kiai bukan hanya hubungan guru dan murid. Di dalamnya terdapat nilai ta'zim, adab, keteladanan, penghormatan terhadap ilmu, serta pembentukan akhlak.

Karena itu, sikap taat kepada kiai perlu dipahami dalam bingkai adab, amanah, keilmuan, dan keputusan organisasi yang sah.

Ketaatan tidak berarti mematikan daya kritis. Justru pendidikan yang baik adalah pendidikan yang mampu melahirkan generasi yang kritis dalam berpikir, tetapi santun dalam bersikap; berani bertanya, tetapi tetap menghormati; mampu berdiskusi, tetapi tidak kehilangan adab.

Inilah salah satu nilai penting yang diwariskan oleh tradisi pesantren. Setelah Kompetisi, Kembali Bersama. Muktamar juga memberikan pelajaran tentang kedewasaan setelah sebuah proses pemilihan selesai.

Dalam setiap kompetisi, tidak semua orang dapat memperoleh amanah yang sama. Ada yang terpilih, ada yang belum mendapatkan amanah. Namun organisasi tidak boleh berhenti pada kompetisi. Setelah keputusan ditetapkan, semua kembali menjadi bagian dari satu rumah besar. Pelajaran ini sangat relevan bagi pendidikan vokasi.

Dunia kerja tidak selalu berjalan sesuai dengan keinginan pribadi. Dalam sebuah tim, tidak semua gagasan dapat diterima. Tidak semua orang menjadi pemimpin. Tidak setiap usulan menjadi keputusan. Tetapi setiap orang tetap memiliki tanggung jawab untuk bekerja dengan baik dan memberikan kontribusi terbaik.

Karena itu, siswa SMK tidak hanya membutuhkan kompetensi teknis, tetapi juga kemampuan bekerja sama, berkomunikasi, menghargai kepemimpinan, menerima keputusan, dan bertanggung jawab terhadap tugas.

Demokrasi, Pesantren, dan Pendidikan Vokasi

Ketiga hal tersebut—demokrasi, pesantren, dan pendidikan vokasi—sesungguhnya memiliki titik temu yang kuat. Pendidikan vokasi membentuk keterampilan. Pesantren membentuk karakter dan adab. Demokrasi membentuk kemampuan hidup bersama dalam keberagaman. Ketiganya menjadi bekal penting bagi generasi muda Indonesia.

SMK Diponegoro Depok tidak ingin melahirkan lulusan yang hanya terampil bekerja, tetapi juga mampu menjadi manusia yang berkarakter, berakhlakul karimah, mandiri, dan memiliki tanggung jawab sosial.

Karena itu, nilai-nilai yang lahir dari tradisi pesantren dan NU dapat menjadi bagian penting dalam membangun budaya sekolah. Siswa diajak untuk mengenal demokrasi bukan hanya sebagai teori dalam mata pelajaran, tetapi sebagai budaya hidup.

Siswa belajar bahwa kebebasan harus disertai tanggung jawab. Perbedaan harus disertai penghormatan. Kepemimpinan harus disertai amanah. Dan keputusan bersama harus disertai komitmen untuk melaksanakannya.

Menghormati Keputusan Muktamar

Dalam tradisi organisasi NU, Muktamar merupakan forum tertinggi untuk mengambil keputusan strategis organisasi. Karena itu, setelah proses Muktamar selesai dan kepemimpinan telah ditetapkan melalui mekanisme yang berlaku, sikap yang perlu dikembangkan bukan lagi mempertajam perbedaan pilihan, melainkan merawat persatuan dan menghormati keputusan Muktamar.

Bagi warga pendidikan yang berada dalam lingkungan NU, sikap tersebut juga menjadi pembelajaran penting. Tidak harus selalu sepakat sejak awal untuk bisa berjalan bersama setelah keputusan ditetapkan. Inilah kedewasaan dalam berdemokrasi. Dan inilah pula salah satu nilai yang perlu diwariskan kepada generasi muda. 

Dari Muktamar untuk Generasi Masa Depan

Indonesia membutuhkan generasi yang bukan hanya cerdas dan terampil, tetapi juga memiliki kemampuan hidup bersama di tengah perbedaan. Generasi yang mampu menggunakan teknologi tanpa kehilangan etika. Generasi yang berani menyampaikan gagasan tanpa merasa paling benar. Generasi yang mampu berkompetisi tanpa menjatuhkan. Generasi yang berpikir kritis tanpa kehilangan adab.

Dan generasi yang memahami bahwa dalam kehidupan bersama, ada saatnya kita menyampaikan pilihan, ada saatnya kita bermusyawarah, dan ada saatnya kita taat serta melaksanakan keputusan yang telah disepakati melalui mekanisme yang sah.

Dari Muktamar NU, peserta didik dapat belajar bahwa demokrasi bukan sekadar tentang memenangkan pilihan, tetapi tentang menjaga kebersamaan setelah pilihan ditetapkan. Dari pesantren, mereka belajar bahwa ilmu harus berjalan bersama adab dan penghormatan kepada ulama. Dan dari pendidikan vokasi, mereka belajar bahwa keterampilan harus diwujudkan dalam kerja nyata, tanggung jawab, kemandirian, dan profesionalisme.

Semua nilai itu menjadi bagian dari ikhtiar SMK Diponegoro Depok dalam menyiapkan generasi muda yang Unggul, Terampil, Agamis, Mandiri, dan berAkhlakul Karimah (UTAMA)—generasi yang siap berkarya, siap menghadapi perubahan, sekaligus tetap kokoh pada nilai agama, pesantren, dan kebangsaan.

Berbeda dalam pilihan adalah bagian dari demokrasi.
Menghormati keputusan adalah bagian dari kedewasaan.
Dan menjaga persatuan adalah bagian dari tanggung jawab bersama. (*)

Share Whatsapp Share Facebook