Depok, 12 Agustus 2026 - Tidak semua rapat kerja melahirkan sekadar daftar program dan target capaian. Ada kalanya, rapat kerja menjadi ruang untuk menata kembali hati, meluruskan niat, dan memperkuat komitmen dalam mengemban amanah pendidikan. Itulah nuansa yang terasa ketika KH. Drs. Syakir Ali, M.Si, Pengasuh Pondok Pesantren Diponegoro, menyampaikan wejangan kepada seluruh guru dan karyawan SMK Diponegoro Depok. Dengan tutur kata yang teduh, beliau tidak hanya berbicara tentang pengelolaan sekolah, tetapi juga mengingatkan kembali nilai-nilai yang menjadi ruh perjuangan sebuah lembaga pendidikan.
Dalam pandangan beliau, rapat kerja sejatinya merupakan momentum untuk menyamakan visi dan misi seluruh keluarga besar sekolah. Perbedaan gagasan adalah hal yang lumrah, tetapi arah perjuangan tidak boleh terpecah. Ketika seluruh unsur sekolah memiliki tujuan yang sama, setiap langkah akan menjadi lebih ringan dan setiap keputusan akan bermuara pada kemajuan lembaga.
Beliau mengingatkan bahwa kepercayaan merupakan aset paling berharga yang dimiliki sebuah lembaga pendidikan. Kepercayaan itu harus dijaga melalui tata kelola yang terbuka, profesional, dan bertanggung jawab. Karena itu, kesehatan manajemen tidak dapat dipisahkan dari kesehatan keuangan sekolah. Kedisiplinan pembayaran SPP menjadi salah satu ikhtiar penting untuk menopang keberlangsungan program pendidikan, yang harus diiringi dengan pembenahan sistem manajemen internal agar semakin tertib, transparan, dan akuntabel.
Di tengah dinamika organisasi, KH. Syakir Ali juga mengajak seluruh peserta raker untuk memandang perbedaan secara dewasa. Menurut beliau, konflik bukanlah sesuatu yang harus ditakuti, melainkan bagian dari proses pendewasaan sebuah organisasi. Yang harus dijaga adalah adab dalam bermusyawarah, kelapangan hati dalam menerima masukan, serta komitmen untuk selalu mengutamakan kemaslahatan bersama. Nilai-nilai inilah yang sejak lama hidup dalam tradisi Nahdlatul Ulama, yaitu merawat ukhuwah di atas kepentingan pribadi maupun kelompok.
Beliau kemudian mengingatkan pentingnya menentukan skala prioritas dalam membangun sekolah. Program yang menjadi kebutuhan utama harus didahulukan, sementara hal-hal yang bersifat pelengkap dapat disesuaikan dengan kemampuan lembaga. Sikap bijak dalam menentukan prioritas bukan berarti membatasi cita-cita, melainkan memastikan setiap ikhtiar berjalan secara terukur dan memberi manfaat yang nyata.
Salah satu pesan yang paling membekas adalah ajakan untuk menghadirkan pelayanan terbaik kepada peserta didik. Menurut beliau, setiap anak yang datang ke sekolah harus disambut dengan keramahan, kepedulian, dan penghormatan. Pelayanan prima bukan sekadar standar pelayanan, melainkan cerminan akhlak seorang pendidik. Ketika peserta didik merasa dihargai dan dilayani dengan sepenuh hati, kepercayaan orang tua akan tumbuh, dan nama baik sekolah akan terbangun dengan sendirinya.
Menjelang akhir arahannya, KH. Syakir Ali mengingatkan bahwa keberhasilan tidak pernah lahir dalam sekejap. Membangun sekolah, menumbuhkan kepercayaan masyarakat, dan melahirkan lulusan yang berkualitas merupakan proses panjang yang menuntut kesabaran, istiqamah, dan kerja sama seluruh warga sekolah. Sebagaimana para masyayikh merintis pesantren dengan ketekunan dan keikhlasan, demikian pula sebuah lembaga pendidikan akan tumbuh kokoh apabila dibangun dengan semangat pengabdian yang tidak mengenal lelah.
Wejangan tersebut menjadi refleksi berharga bagi seluruh peserta rapat kerja. Program dan target tentu penting, tetapi semuanya hanya akan bermakna apabila dibangun di atas fondasi amanah, kebersamaan, pelayanan yang tulus, dan ikhtiar yang istiqamah. Sebab pada akhirnya, kemajuan sekolah tidak hanya diukur dari pencapaian angka, melainkan dari keberhasilannya menjaga kepercayaan masyarakat serta menghadirkan keberkahan bagi setiap insan yang belajar dan mengabdi di dalamnya. (*)