Ketika Jarum Bertemu AI: Guru DPB SMK Diponegoro Depok Perkuat Link and Match dengan Perguruan Tinggi

Ketika Jarum Bertemu AI: Guru DPB SMK Diponegoro Depok Perkuat Link and Match dengan Perguruan Tinggi

Depok, 29 Agustus 2026— Dunia tata busana terus bergerak. Kreativitas dan keterampilan menjahit kini berjalan beriringan dengan teknologi digital, termasuk kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI). Menjawab perubahan tersebut, SMK Diponegoro Depok terus mendorong peningkatan kompetensi guru agar pembelajaran yang diberikan kepada peserta didik tetap relevan dengan perkembangan zaman dan kebutuhan dunia kerja.

Salah satu langkah tersebut dilakukan melalui keikutsertaan Ibu Rina Wahyuningsih, S.Pd., guru Tata Busana/Desain dan Produksi Busana (DPB) SMK Diponegoro Depok, dalam Pelatihan Pembuatan Desain Busana Digital Berbasis AI yang diselenggarakan oleh Program Studi Pendidikan Tata Busana, Fakultas Teknik Universitas Negeri Yogyakarta (UNY).

Pelatihan yang berlangsung pada 21–22 Agustus 2026 tersebut ditujukan untuk meningkatkan kompetensi guru SMK Tata Busana di Yogyakarta, khususnya dalam mengikuti perkembangan desain busana digital dan pemanfaatan teknologi AI.

Kegiatan ini menjadi momentum penting bagi guru DPB untuk mengenal sekaligus mengembangkan kemampuan dalam memanfaatkan teknologi sebagai bagian dari proses kreatif perancangan busana. Dalam kegiatan tersebut, para peserta menghasilkan berbagai rancangan desain busana digital yang menunjukkan perpaduan antara kreativitas manusia dan pemanfaatan teknologi.

Memperkuat Link and Match SMK dengan Perguruan Tinggi

Bagi SMK Diponegoro Depok, keikutsertaan guru dalam kegiatan yang diselenggarakan perguruan tinggi bukan sekadar agenda peningkatan kompetensi. Lebih dari itu, kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat link and match antara pendidikan vokasi dan perguruan tinggi, sehingga perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dapat semakin dekat dengan proses pembelajaran di SMK.

Kolaborasi seperti ini menjadi penting karena pendidikan vokasi dituntut untuk terus menyesuaikan diri dengan perubahan dunia kerja. Guru tidak hanya dituntut menguasai keterampilan teknis, tetapi juga perlu memahami teknologi dan pendekatan baru yang berkembang di industri.

Dalam konteks Desain dan Produksi Busana, perubahan tersebut terlihat semakin nyata. Proses yang sebelumnya sangat bergantung pada sketsa dan teknik manual kini berkembang menuju desain digital, visualisasi berbasis teknologi, hingga pemanfaatan AI untuk mengeksplorasi ide dan konsep busana.

AI bukan untuk menggantikan kreativitas seorang desainer. Sebaliknya, teknologi dapat menjadi alat bantu untuk memperluas eksplorasi ide, mempercepat proses visualisasi, dan membuka kemungkinan-kemungkinan desain baru.

Karena itu, penguasaan teknologi harus tetap ditempatkan sebagai bagian dari kompetensi, sementara nilai kreativitas, rasa, ketelitian, keterampilan, etika, dan karakter tetap menjadi kekuatan utama seorang calon desainer.

Guru Belajar, Siswa Mendapat Dampaknya

Peningkatan kompetensi guru pada akhirnya diharapkan memberikan dampak langsung kepada peserta didik. Pengetahuan dan pengalaman yang diperoleh Ibu Rina Wahyuningsih dapat menjadi bekal untuk menghadirkan pembelajaran DPB yang semakin kontekstual dan sesuai dengan perkembangan teknologi.

Peserta didik tidak cukup hanya memiliki kemampuan membuat pola, menjahit, dan menghasilkan sebuah produk busana. Mereka juga perlu dibekali kemampuan untuk membaca tren, mengembangkan konsep desain, memanfaatkan teknologi digital, berpikir kreatif, serta beradaptasi dengan perubahan kebutuhan industri fashion.

Inilah tantangan pendidikan vokasi saat ini. Dunia kerja bergerak cepat, teknologi berkembang pesat, sementara sekolah harus memastikan lulusan tetap memiliki kompetensi yang dibutuhkan.

SMK Diponegoro Depok melihat perkembangan teknologi AI sebagai tantangan sekaligus peluang. Tantangan karena kompetensi baru harus terus dipelajari. Peluang karena teknologi dapat dimanfaatkan untuk memperkaya proses belajar dan mendorong siswa menjadi lebih kreatif serta inovatif.

Menyiapkan Talenta Fashion untuk Indonesia Emas 2045

Langkah peningkatan kompetensi guru DPB juga sejalan dengan semangat SMK Diponegoro Depok dalam mempersiapkan generasi muda menghadapi Indonesia Emas 2045.

Generasi yang dibutuhkan bukan hanya generasi yang mampu menggunakan teknologi, tetapi generasi yang mampu mengendalikan dan memanfaatkan teknologi untuk menghasilkan karya, menciptakan peluang, serta memberikan manfaat bagi masyarakat.Di bidang fashion, tantangan global menuntut lahirnya sumber daya manusia yang memiliki perpaduan antara keterampilan vokasional, kreativitas, literasi digital, kemampuan beradaptasi, dan karakter yang kuat.

Karena itu, pembelajaran di Program Desain dan Produksi Busana (DPB) SMK Diponegoro Depok diarahkan tidak hanya untuk menghasilkan siswa yang terampil, tetapi juga mampu berkembang mengikuti perubahan industri.

Semangat tersebut sejalan dengan jati diri SMK Diponegoro Depok melalui UTAMA: Unggul, Terampil, Agamis, Mandiri, berAkhlakul Karimah.Teknologi boleh terus berubah. Tren fashion boleh berganti. Namun, kreativitas, keterampilan, karakter, dan semangat untuk terus belajar harus tetap menjadi fondasi.

Dari tangan guru yang terus belajar, lahir siswa yang siap menghadapi masa depan. Dari ruang praktik DPB, SMK Diponegoro Depok ingin ikut menyiapkan talenta fashion yang tidak hanya mampu berkarya di tingkat lokal, tetapi juga siap menghadapi tantangan industri fashion di era global. (*)

Share Whatsapp Share Facebook